Potensi Larangan Minyak Kelapa Sawit, Produk Sarung Tangan oleh Kanada Tidak Berdasar

Ekspor minyak kelapa sawit dan sarung tangan Malaysia akan mengalami dampak minimal apabila Kanada memutuskan untuk melarang impor produk tersebut atas tuduhan kerja paksa di industri tersebut.


Pakar industri MR Chandran mengatakan bahwa Kanada bukanlah pasar yang besar bagi industri minyak kelapa sawit Malaysia yang dapat dialihkan untuk penggunaan domestik maupun pasar ekspor yang baru atau yang sudah ada.


“Mereka belum melakukan apa-apa untuk saat ini. Saya pikir Kanada sedang mencoba mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (Customs and Border Protection / CBP) Amerika Serikat melarang Sime Darby Plantation Bhd dan FGV Holdings Bhd tahun lalu.


“Namun, tidak ada bukti yang membuktikan tuduhan tersebut hingga saat ini, di mana hal itu sangat konyol. Sime Darby Plantation memiliki beberapa sertifikasi internasional seperti Kelompok Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil), jadi apa dasarnya?”katanya pada The Malaysian Reserve (TMR).


Reuters melaporkan pada minggu lalu bahwa Kanada sedang menginvestigasi tuduhan kerja paksa di industri minyak kelapa sawit dan sarung tangan Malaysia.


Program Tenaga Kerja dari Ketenagakerjaan dan Pengembangan Sosial Kanada secara aktif meneliti tuduhan kerja paksa di beberapa negara dan sektor, termasuk manufaktur minyak kelapa sawit dan sarung tangan di Malaysia.


Perusahaan Malaysia, yang mencakup beberapa produsen minyak kelapa sawit dan sarung tangan karet terbesar di dunia, telah menghadapi peningkatan pengawasan dalam beberapa tahun terakhir akibat laporan pelanggaran tenaga kerja dan perusakan hutan tropis.


Chandran mempertanyakan bagaimana Amerika Serikat dan Kanada bisa datang dengan tuduhan terkait Perintah Pengendalian Gerakan (Movement Control Orders) yang telah diterapkan sejak tanggal 18 Maret 2020, untuk menghadang penyebaran pandemi Covid-19.


“Bagaimana mereka bisa turun ke lapangan dan melakukan audit? Mungkin melalui wawancara telepon atau ada yang komplain. Apa pembenarannya, mana buktinya?” Tambahnya.


Menurut data yang tersedia dari pemerintah Kanada, Malaysia mengekspor minyak kelapa sawit senilai 282 juta Ringgit Malaysia dan sarung tangan karet senilai 1,31 milyar Ringgit Malaysia ke Kanada pada tahun 2020.


Chandran tidak khawatir tindakan tersebut bisa menyebar ke negara lain, terutama negara-negara Eropa.


“Uni Eropa memiliki peraturan dan regulasinya sendiri. Kedua Malaysia dan Indonesia memiliki banyak investasi di Eropa – dalam sektor hilir menciptakan banyak lowongan pekerjaan bagi Eropa. Jadi, saya tidak berpikir Eropa akan mengambil tindakan drastis seperti itu,” katanya.


CBP Amerika Serikat telah menghentikan dan / atau menyita sarung tangan buatan Malaysia di masa lalu atas dasar indikasi kerja paksa, seperti jam kerja yang berlebihan, kondisi hidup dan kerja yang kejam, lilitan hutang, intimidasi, kekerasan fisik dan seksual, serta penahanan dokumen identitas diri oleh perusahaan.


Perusahaan yang terkena sanksi termasuk Top Glove Corp Bhd, Sime Darby Plantation dan FGV Holdings.


Seorang analis dari broker lokal mengatakan tindakan Kanada akan berdampak minimal karena Kanada bukan merupakan pasar utama bagi empat perusahaan besar sarung tangan lokal.


“Negara-negara Barat mengangkat masalah kerja paksa di perushaan Malaysia bukanlah sesuatu yang baru. Saya sangat yakin bahwa perusahaan kami telah melakukan pekerjaan yang baik dengan mengadopsi pedoman ketenagakerjaan.


“Semua dampak dari tindakan tersebut telah diperhitungkan dalam harga saham perusahaan sarung tangan dan perkebunan,: katanya kepada TMR.