Raksasa minyak kelapa sawit mengatakan bahwa keberlanjutan adalah norma bisnis baru

Perusahaan minyak kelapa sawit menghadapi banyak kritik tentang deforestasi yang meluas dalam beberapa tahun terakhir, dikatakan pada hari Senin bahwa dalam memastikan keberlanjutan di seluruh rantai pasokan adalah norma bisnis yang baru karena pengawasan terhadap tanggung jawab akan minyak kelapa sawit yang diproduksi.


Dalam sebuah konferensi daring, perusahaan perkebunan dengan hasil perkebunan tertinggi di Indonesia dan Malaysia mengatakan bahwa kemudahan dalam melacak rantai pasokan, dan kebijakan terkait pembatasan total deforestasi, larangan penanaman di lahan gambut, serta larangan eksploitasi kini menjadi persyaratan bagi pembeli global utama seperti Nestlé and Unilever.


"Keberlanjutan adalah bisnis baru seperti biasa,” kata Perpetua George, Manajer Umum Keberlanjutan Wilmar International Group.

"Jika sebuah perusahaan seperti Wilmar ingin tetap relevan di pasaran global, sangat penting bagi mereka untuk menjaga keberlanjutan sebagai bagian dari bisnisnya.” Murah dan serbaguna, minyak kelapa sawit dapat ditemukan pada berbagai macam produk mulai pizza hingga lipstik, namun industri senilai 60 miliar Dolar Amerika di Asia Tenggara ini menghadapi reaksi keras dan bahkan boikot dari konsumen karena menebangi hutan hujan tropika yang kaya akan kehidupan untuk penanaman kelapa sawit.


Uni Eropa, importir ketiga terbesar minyak kelapa sawit, telah memutuskan untuk menghapus bahan bakar kendaraan berbasis minyak kelapa sawit dari konsumsi energi terbarunya pada tahun 2030 dan diharapkan akan membuat aturan baru terkait penggunaan minyak kelapa sawit di dalam makanan.


Inggris juga sedang mempertimbangkan undang-undang baru yang akan mendenda perusahaan yang menggunakan komoditas yang ditanam pada lahan hasil deforestasi ilegal.


Dengan pemantauan publik terhadap deforestasi dimungkinkan oleh teknologi satelit, tingkat pengawasannya menjadi lebih ketat dan deforestasi tidak dapat diterima oleh para pemangku kepentingan, kata sebuah perusahaan kelapa sawit bersertifikat berkelanjutan.


"Permintaan untuk sertifikat fisik minyak kelapa sawit berkelanjutan juga telah meningkat dari tahun ke tahun,” kata Ketua Divisi Berkelanjutan Sime Darby Plantation Rashyid Redza Anwarudin.


Sime, merupakan produsen minyak kelapa sawit berkelanjutan terbesar di dunia, menambahkan bahwa investor internasional dan lokal seperti bank sentral dan Komisi Sekuritas juga meningkatkan komitmen mereka terhadap perubahan iklim.


"Mengambil tindakan bukan lagi menjadi pilihan dan kami telah menetapkan langkah yang berani untuk memastikan keberlanjutan di seluruh rantai pasokan,” kata Manajer Keberlanjutan Cargill Tropical Palm’s Group Yunita Widiastuti.

Recent Posts

See All

advertisement

Copyright 2020 Asia Palm Oil Magazine

FBI Publications (M) Sdn Bhd | 9-3, jalan PJU 5/6, Dataran Sunway, 47810 Petaling Jaya, Selangor