Petani Kelapa Sawit Didorong untuk Mengadopsi Teknologi Agar Meningkatkan Panen

Industri kelapa sawit, terutama setengah juta petani kecil, perlu untuk berbuat lebih bagi bisnis budidaya kelapa sawit mereka, meskipun mereka membudidayakan lahan yang lebih kecil untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan hal ini bisa dilakukan melalui mekanisasi dan pengadopsian teknologi, menurut wadah pikir industri perkebunan.


Berbagi pandangan mereka pada hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi dan Pameran Future-Proofed Palm Oil (FPPO) tahun 2020, kedelapan panelis yang tampil hari ini yakin kalau petani kecil tidak dapat berpindah namun perlu untuk berubah, agar dapat dengan baik mengelola lahan mereka dan meningkatkan hasil panen.



“Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak untuk mendapatkan peralatan yang canggih tetapi cukup dengan telepon genggam untuk memantau kondisi kerja melalui pengambilan foto tanaman mereka, dan memantau hasil panen, serta penggunaan air dan pupuk.


“Mereka perlu mengawasi apa yang terjadi pada perkebunan mereka,” kata Ferron Haryanto, direktur utama PT e-Komoditi Solution.


Sejalan dengan pandangannya, Shih Shen Wong, manajer penjualan wilayah Asia Tenggara Planet Labs Inc mengatakan bahwa disrupsi yang dibawakan oeh teknologi baru tersedia bagi para petani untuk diterapkan di perkebunan kelapa sawit mereka dan digunakan untuk meningkatkan hasil panen.


“Hal ini sangat penting semenjak Malaysia berjanji untuk membatasi total area penanamannya pada 6,5 juta hektar di tahun 2023, dalam sebuah langkah untuk menghalau klaim bahwa perluasan perkebunan menyebabkan deforestasi, katanya.


Shih mengatakan masalahnya dapat diselesaikan dengan mengadopsi kecerdasan buatan dan teknologi blockchain (buku besar terdistribusi untuk ketelusuran).


Sementara itu, untuk meningkatkan hasil panen, pejabat senior penelitian Malaysian Palm Oil Board serta kepala Unit Pembibitan dan Kultur Jaringan, Dr Melina Ong-Abdullah mengatakan bahwa dewan sedang mempercepat pemuliaan melalui kloning kelapa sawit dengan sifat dan keturunan khusus yang tinggi dengan kandungan karoten dan vitamin E.


Namun, ia mengatakan akan ada beberapa tantangan — terutama biaya yang tinggi dari strategi tersebut dan kekhawatiran siapa yang akan menanggung biaya tersebut — meskipun ada potensi besar untuk meningkatkan hasil panen dan pendapatan.


“Harus ada kebijakan untuk mendukung inisiatif ini. Kemungkinan solusi untuk klonal mencakup arahan kebijakan pemerintah, model bisnis yang berpotensi dan model kesejahteraan bersama.


“Untuk arahan kebijakan, untuk mendukung penanaman klon, setidaknya 10% bahan klonal harus dimasukkan ke dalam program peremajaan dan produsen klonal harus mengalokasikan lima hingga sepuluh persen hasil produksi mereka kepada petani kecil atau pihak lain yang termasuk dalam tanggung jawab sosial mereka,” jelasnya.


Panelis yang lainnya mengusulkan meningkatkan hasil panen dengan mengintegrasikan industri kelapa sawit dengan Industri 4.0 dan industri bioteknologi, yang juga dikenal sebagai Industri X.




“Industri X dapat membuka kunci pada hasil panen tambahan tanpa penambahan lahan. Bioteknologi merupakan teknologi terbukti bagi proses penggilingan minyak kelapa sawit yang lebih efisien dan ramah lingkungan pada masa depan.

“Hal ini juga memungkinkan produsen minyak kelapa sawit untuk mengolah limbah menjadi sumber bahan bakar hayati. Industri penggilingan minyak kelapa sawit masih sedang bertumbuh dan untuk mengembangkannya lebih jauh memerlukan intervensi dari lebih banyak ilmuwan dan insinyur,” kata Hong Wai Onn, sekretaris kehormatan, Dewan Direksi IChemE Malaysia dan ketua Grup Minat Khusus Pemrosesan Minyak Kelapa Sawit IChemE.

Selain meningkatkan hasil panen, wadah pikir juga yakin jika teknologi penggilingan minyak kelapa sawit juga perlu berubah.

“Kondisi mesin dan kondisi pengoperasian peralatan di penggilingan minyak kelapa sawait merupakan faktor utama yang mempengaruhi kehilingan minyak dan laju ekstraksi minyak (oil extraction rate / OER).

“Oleh karena itu, perbaikan operasi mesin diharapkan dapat menjadi cara yang memungkinkan untuk meningkatkan OER yang juga akan membantu mengurangi pemborosan minyak kelapa sawit saat penggilingan,” kata Prof Robiah Yunus, direktur Institut Ilmu Perkebunan dan profesor Grup Produk Nabati dan Penelitian Teknologi, Departemen Teknik Kimia dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universiti Putra Malaysia.

Penelitian telah menemukan bahwa pada tahun 2050, dunia akan memerlukan 156 juta ton minyak kelapa sawit mentah dibandingkan 65 juta ton yang dihasilkan pada tahun 2019.

Mengingat keterbatasan untuk memenuhi permintaan pasar minyak kelapa sawit karena keterbatasan lahan dan kekurangan tenaga kerja, maka penting bagi industri untuk meningkatkan hasil panen melalui modernisasi serta penelitian dan pengembangan, kata Robiah.

FPPO tahun 2020 merupakan acara berjangka waktu empat hari yang dimulai sejak kemarin, ditujukan untuk membahas permasalahan terkait minyak kelapa sawit dan merekomendasikan solusi melalui diskusi mengenai pasar, kebijakan, strategi, teknologi dan inovasi.