Perusahaan Minyak Kelapa Sawit Perlu Berkolaborasi Dengan Produsen Minyak Nabati Lainnya

Perusahaan Minyak Kelapa Sawit Perlu Berkolaborasi Dengan Produsen Minyak Nabati Lainnya Untuk Menawarkan Solusi Minyak Serba Guna


Perusahaan minyak kelapa sawit perlu berkolaborasi dengan produsen minyak nabati lainnya, untuk menawarkan solusi yang minyak serba guna, menurut Direktur Utama IOI Corp Bhd, Datuk Lee Yeow Chor.


Lee, yang berbicara dalam Forum CEO di Pameran dan Seminar Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil Trade Fair and Seminar / POTS) 2021, menggarisbawahi bahwa sektor minyak nabati lain juga penting bagi negara penghasilnya, dan penggunaannya dalam makanan yang berbeda memerlukan komposisi lemak yang berbeda.


“Hal ini berujung pada dua hasil yang penting. Di mana ia memungkinkan industri untuk mengarahkan sentimen nasionalistik terhadap minyak impor lainnya, sementara memasarkan fraksi yang berbeda sesuai dengan penggunaan dan tujuan,” kata Lee.


Lee juga mengadvokasi regionalisasi perdagangan minyak kelapa sawit berbasis komoditas, karena pandemi Covid-19 telah menyoroti resiko terkait rantai pasokan yang panjang dengan implikasi keamanan pangan.


Menurut dia tidak mungkin untuk mengirimkan minyak kelapa sawit dalam jumlah besar melewati benua menuju daerah pedalaman.


Conthnya, dibutuhkan enam minggu bagi minyak kelapa sawit yang dikirimkan dari Malaysia untuk sampai ke pabrik pengolahan makanan di Chicago, AS.


Pada saat yang bersamaan, karena titik leleh minyak kelapa sawit, dibutuhkan pemanasan dan pendinginan yang terus menerus bagi minyak kelapa sawit yang dikirimkan, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas minyak.


Belum lagi dari segi biaya pengiriman laut dan darat yang mencapai 120 Dolar Amerika per ton atau 20% dari harga rata-rata minyak kelapa sawit di Malaysia, jelas Lee.


“Perbedaan pendekatannya adalah apakah industri minyak kelapa sawit mau mengambil pangsa pasar minyak nabati lain di negara-negara Barat, atau kami berkonsentrasi dan meningkatkan pangsa pasar minyak kelapa sawit di negara produsen minyak kelapa sawit dan wilayah sekitarnya, yang merupakan negara-negara yang sedang berkembang dan negara yang baru merdeka.


"Saya akan berargumen terhadap pendekatan yang pertama, di mana anda mengirimkan minyak kelapa sawit dengan jarak yang jauh untuk bersaing dengan minyak nabati lainya, yang bisa dikatakan juga merusak nilai,” katanya.


Dia juga menambahkan bahwa strategi yang berfokus pada negara produsen minyak kelapa sawit dan negara tetangga mereka sejalan dengan penyebaran populasi negara berkembang dan negara yang baru merdeka, di mana negara-negara tersebut mencapai 60% dari populasi global.


Lee juga berpendapat kalau aplikasi dan tujuan khusus dapat dikembangkan untuk sebagian kecil minyak kelapa sawit.

Dia memaparkan hal ini karena biaya logistik secara keseluruhan lebih murah, tetapi biaya transportasi per ton lebih tinggi, dan karena itu produk bernilai tinggi harus dikembangkan.


“Saya dapat memberikan beberapa contoh di mana minyak kelapa sawit dirubah menjadi produk bernilai tinggi. Dari sisi oleokimia, ia dapat diterapkan pada sektor kebersihan dan bahan bakar terbarukan.


"Terkait bahan bakar terbarukan, itu akan sangat ditargetkan, saya tidak menganjurkan pengiriman bahan bakar hayati berbasis minyak kelapa sawit daam jumlah besar ke Amerika Serikat maupun Eropa. Tetapi, di ekonomi Asia seperti Tiongkok, Jepang dan Korea, karena mereka telah menargetkan netral karbon pada tahun 2050, sehingga penggunaan bahan bakar terbarukan akan membantu mereka mencapai target netral karbon tersebut,” katanya.


Dengan demikian, ketiga solusi ini akan menjawab aspek “apa, di mana dan bagaimana” dari partisipasi minyak kelapa sawit dalam pasar minyak nabati, dan membuat posisi kompetitif minyak kelapa sawit lebih aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Related Posts

See All