Pertamina Indonesia melakukan uji coba bahan bakar hayati dan bahan bakar pesawat jet

Pertamina Indonesia melakukan uji coba bahan bakar hayati dan bahan bakar pesawat jet yang mengandung 100% minyak kelapa sawit


Perusahaan energi milik negara Indonesia, PT Pertamina mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah memulai uji coba bahan bakar yang terbuat sepenuhnya dari minyak kelapa sawit di fasilitas penyulingannya di Cilacap, pulau Jawa setelah melakukan uji coba bahan bakar pesawat jet pada akhir tahun lalu.



Pertamina memulai uji coba “Bahan Bakar Ramah Lingkungan” pada tanggal 9 Januari tahun ini dan akan terus berlangsung hingga tanggal 16 Januari, kata seorang juru bicara Pertamina dalam pernyataan itu. Uji coba atas bahan bakar pesawat jet dilakukan pada akhir bulan Desember 2020.


“Uji coba ini akan terus dilakukan hingga ia siap dan aman untuk digunakan sebagai bahan bakar bagi masyarakat,” kata juru bicara, Hatim Ilwan.


Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, kini memiliki program wajib bahan bakar hayati dengan kandungan 30% minyak kelapa sawit yang dikenal dengan nama B30, namun pemerintah tetap ingin memperluas penggunaan minyak nabati sebagai sumber energi untuk mengurangi impor bahan bakar.


Namun jatuhnya harga bahan bakar tahun ini telah menjadi program ini menjadi kurang ekonomis dan rencana untuk meningkatkan kandungan hayati hingga 40% telah tertunda karena masalah pendanaan.


Sementara program B30 menggunakan asam lemak metil ester, atau dikenal sebagai FAME, Bahan Bakar Ramah Lingkungan menggunakan minyak kelapa sawit yang disuling, dihilangkan warna dan baunya (RBDPO), di mana minyak kelapa sawit tersebut telah disuling untuk menghilangkan asam lemak bebas dan purifikasi untuk menghilangkan warna dan bau, kata Hatim.


“Sementara itu Bahan Bakar Pesawat Jet Ramah Lingkungan, menggunakan Minyak inti kelapa sawit yang telah disuling, dihilangkan warna dan baunya (RBDPKO) maupun minak inti kelapa sawit,” katanya, mengingat produk tersebut belum tersedia untuk penggunaan secara komersial.


Penyulingan bahan bahan bakar hayati di Cilacap diharapkan mampu memproduksi sebanyak 3.000 barel bahan bakar hayati yang mengandung 100% minyak kelapa sawit setiap harinya.