Permintaan Tiongkok dan India menaikkan harga minyak kelapa sawit meskipun ada tekanan dari AS

Harga minyak kelapa sawit sedang meningkat, karena pemulihan permintaan dari Tiongkok dan India serta kekurangan tenaga kerja di negara produsen sebagai akibat dari pandemi coronavirus.


Harga indeks di Bursa Pertukaran Derivatif Malaysia ada di nilai 3.064 Ringgit Malaysia (737 Dolar Amerika) per ton pada pertengahan bulan Oktober, naik 38% dibanding tahun lalu. Pada bulan Agustus, ia mencapai nilai tertingginya sejak bulan Januari, mencapai 3.100 Ringgit Malaysia per ton.



Minyak kelapa sawit merupakan salah satu minyak yang paling banyak digunakan di dunia, karena kegunaan utamnya di makanan dan juga dalam kosmetik dan bahan bakar hayati. Indonesia dan Malaysia menyumbang 90% dari pasokan global.


Lonjakan harga mencerminkan cepatnya pemulihan permintaan dari India dan Tiongkok, dua konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, setelah mereka melalui penutupan akses keluar masuk dan penghentian sementara aktivitas ekonomi di tengah pandemi.


Menurut Malaysian Palm Oil Board, ekspor minyak kelapa sawit Malaysia ke Tiongkok mencapai 249.897 ton di bulan September, naik 69% dari bulan Maret. Ekspor ke India juga meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Di bulan September, 374.553 ton minyak kelapa sawit diekspor, 42 kali lebih banyak dibandingkan bulan Maret.


Selama penutupan akses keluar masuk, importir menghabiskan persediaan mereka. Namun ketika aktivitas perekonomian mulai pulih, importir dengan gesit melakukan pembelian minyak kelapa sawit untuk menutupi permintaan. “Terutama permintan di Tiongkok telah pulih lebih cepat daripada yang dibayangkan,” kata seorang pedagang di rumah perdagangan Jepang.


Bagi Malaysia, hubungan politik yang baik dengan India – pembeli minyak kelapa sawit terbesarnya – telah berkontribusi terhadap meningkatnya ekspor. Bulan Oktober lalu, sebuah grup perdagangan yang berpengaruh di India memberikan arahan kepada anggotanya untuk berhenti mengimpor minyak kelapa sawit dari Malaysia, setelah terjadinya bentrokan antara New Delhi dan Kuala Lumpur atas masalah Kashmir. Malaysia telah mengambil sikap memihak kepada Pakistan, yang juga mengklaim wilayah tersebut, sementara India telah meminta ektradisi seorang pemimpin agama Islam yang menurutnya telah menyebarkan ucapan kebencian terhadap negara tersebut. Namun kegelisahan politik tersebut mereda setelah Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengundurkan diri pada bulan Februari.


Indonesia yang merupakan produsen terbesar minyak kelapa sawit du dunia, juga mengalami peningkatan ekspor. Tingkat ekspor pada bulan Juli meningkat 13% dari bulan Juni, menurut Asosiasi Minyak Kelapa Sawit Indonesia. Dari bulan Januari hingga Juli, “ekspor ke India meningkat 3.249 juta ton, di mana lebih tinggi 22% [pada periode yang sama] dibanding tahun lalu,” katanya.


Indonesia menghasilkan 23,5 juta ton minyak kelapa sawit pada semester pertama tahun ini, penurunan 9% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Joko Supriyono, ketua Asosiasi Minyak Kelapa Sawit Indonesia mengatakan penurunan produksi merupakan imbas dari turunnya harga minyak di tahun 2018 dan perpanjangan musim kemarau tahun lalu.


Pandemi juga memiliki dampat pada ekspor minyak kelapa sawit Indonesia, yang telah menurun 11% pada semester pertama menjadi 15,5 juta ton. Namun harga meningkat menyebabkan nilai ekspor meningkat menjadi 10,1 miliar Dolar Amerika.


Supriyono mengatakan oleokimia – bahan kimia yang diturunkan dari lemak hewani dan nabati seperti minyak kelapa sawit dan banyak digunakan pada produk rumahan dan perawatan pribadi – melebihi produk minyak kelapa sawit lainnya, dengan pertumbuhan 24% volume ekspor menjadi 1,8 juta ton pada semester pertama. “Ini mungkin berhubungan dengan pandemi – kini ada permintaan bagi disinfektan, penyanitasi tangan dan [produk] kebersihan lain,” katanya dalam sebuah konferensi pers di bulan Agustus.


Sementara itu, pelaku industri melihat prosek yang “bagus” bagi ekspor minyak kelapa sawit yang dapat dimakan untuk sisa tahun ini.


"Eropa dan negara subtropis lainnya kesulitan karena masalah COVID, [dan] tentunya produksi mereka menurun,” kata Sahat Sinaga, direktur eksekutif Asosiasi Minyak Nabati Indonesia, pada jumpa pers yang sama di bulan Agustus. “Jadi tidak heran kita melihat harga minyak kelapa sawit terus meningkat.”


Meskipun permintaan mulai pulih, faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga adalah kesulitan pemasok untuk mendapatkan tenaga kerja yang cukup untuk memanen. Tenaga kerja sering kali termasuk tenaga kerja asing yang berasal dari negara Asia lainnya, seperti Filipina, namun penutupan akses keluar masuk ke negara produsen minyak kelapa sawit menghambat pergerakan mereka.


Menurut MPOB, produksi minyak kelapa sawit Malaysia di bulan Agustus tahun ini merosot 5% pada periode yang sama tahun lalu.


Dengan banyaknya permintaan dan terbatasnya pasokan, banyak pengamat industri yang memperkirakan harga yang tinggi ini akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan. “Kami memperkirakan harga akan terus berada di tingkat yang sedemikian tinggi setidaknya setahun,” kata seorang perwakilan dari produsen bahan makanan asal Jepang.


Namun, industri tersebut harus memperhatikan beberapa faktor yang bisa menurunkan harga minyak kelapa sawit dalam jangka panjang, seorang analis memperingatkan.


Salah satunya adalah bagaimana Uni Eropa akan menangani kelapa sawit. Pada tahun 2018, Uni Eropa setuju untuk mengeluarkan penggunaan komoditas tersebut dalam bahan bakar kendaraan mulai dari tahun 2030, dengan alasan perkebunan kelapa sawit menyebabkan deforestasi di negara produsen.


Sejak saat itu, ketegangan meningkat antara UE dengan Indonesia dan Malaysia. Tahun lalu, Indonesia mengajukan gugatan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap UE. Malaysia dilaporkan akan ikut serta.


Tetapi tempaknya butuh waktu sebelum konflik tersebut dapat diselesaikan. Kalyana Sundram, Direktur Utama Malaysian Palm Oil Council, mengatakan kepada wartawan pada tahun lalu bahwa gugatan terhadap UE bisa memakan waktu dua tahun hingga mencapai kesimpulan.


"Gerakan anti-sawit di UE akan memberikan tekanan pada harga minyak kelapa sawit,” kata perwakilan dari rumah perdagangan Jepang, menambahkan bahwa pengamat industri harus lebih berhati-hati dalam memantau keseluruhan situasi pasokan dan permintaan dalam jangka panjang.


Selain itu, Kazuhiko Saito, ketua analis sebuah perusahaan penelitian Fujitomi di Tokyo, mengatakan bahwa dia memantau dengan berhati-hati kampanye “piring bersih” yang baru-baru ini diluncurkan melawan pemborosan makanan yang dipimpin oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping. Di Tiongkokg, sudah menjadi tradisi untuk memesan lauk lebih dan menyisakan makanan sebagai cara untuk menunjukkan kemurahan hati.


"Karena sisa makanan tidak lagi dianggap sebagai kebajikan, konsumsi minyak di Tiongkok mungkin akan menurun di masa depan,” kata Saito. “Kita harus memperhatikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan untuk dapat memproyeksinya situasi pasar minyak kelapa sawit jangka panjang.”