Permintaan Bahan Bakar Nabati di EU Tetap Stabil, sahut Lipido Santiga

Permintaan bahan bakar nabati yang berasal dari minyak kelapa sawit di Uni Eropa (EU) diperkirakan akan tetap stabil pada tahun ini, menurut sebuah perusahaan minyak nabati terkemuka di Eropa.



Lipidos Santiga SA (Lipsa) mengatakan bahwa secara keseluruhan, penggunaan bahan bakar di EU telah menurun semenjak diberlakukannya penutupan akses keluar masuk untuk menhentikan penyebaran COVID-19.


“Sektor bahan bakar nabati dapat merasa senang karena semua truk dan bus umum yang menggunkan bahan bakar membantu mempertahankan tingkat penggunaan bahan bakar selama masa penutupan,” kata direktur penjualan Lipsa, José Angel Olivero Garcia.


“Penurunan pemakaian bensin dan bahan bakar pesawat jet jauh lebih tinggi,” tambah Garcia pada sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Malaysia Palm Oil Council (MPOC).


Dia mengatakan total konsumsi bahan bakar di EU pada tahun 2019 ada di angka 200 juta ton. Dalam halnya bahan bakar nabati, total penggunaan diestimasikan di angka 17 juta hingga 18 juta ton, atau 8.4% kandungan energi dari total produksi bahan bakar.

Produksi bahan bakar nabati dalam negeri mencapai 15 juta ton, sementara angka impor bersih mencapai 2.5 juta ton.


Garcia mencatat bahwa Spanyol menyaksikan penurunan 60% pada konsumsi bahan bakar, sementara di Eropa Utara, di mana lebih banyak menggunakan bensin daripada bahan bakar, lebih sedikit terpengaruh – yang mengakibatkan sekitar 35% hingga 50% penurunan pengguaan bahan bakar.


Sebagai akibat dari penutupan akses dan krisis ekonomi di EU, total permintaan bahan bakar diperkirakan akan menurun 10% hingga 20% tahun ini, lanjutnya.


“Di sisi lain, positfnya adalah mandat bahan bakar nabati akan meningkat di mana akan mengimbangi tingkat penggunaan bahan bakar yang lebih rendah,” tambahnya.


Sementara itu, di sektor pangan, Garcia mencatat bahwa kurangnya pariwisata pada daerah tersebut akan mengurangi konsumsi minyak kelapa sawit.


“Banyak hotel yang menawarkan paket all-in, sehingga banyak turis mengambil apa yang bisa mereka ambil,” tambahnya.

Selain itu, langkah-langkah menjaga jarak sosial menyebabkan lebih sedikit perayaan dan acara juga menjadi faktor yang merugikan.


Ini karena komponen utama dalam kue dan kue kering adalah margarin, yang terbuat dari minyak kelapa sawit, kata Garcia.

Dan juga, minyak kelapa sawit memiliki reputasi buruk di daerah ini.


“Singkatnya, minyak kelapa sawit akan menjadi bagian kecil di Eropa. Bukan hanya kurangnya pemakaian di dalam makanan, juga karena ia mulai tergantikan di pasar bahan bakar nabati. Jika hal itu terjadi, maka konsumsi minyak kelapa sawit akan menurun,”lanjutnya.


Di bawah Pengarahan Energi Terbarukan II (Renewable Energy Directive II) dari EU, penggunaan bahan bakar nabati yang terbuat dari minyak kelapa sawit akan mulai dihapuskan secara bertahap mulai dari 2023 hingga 2030, karena dugaan masalah lingkungan.

advertisement

Copyright 2020 Asia Palm Oil Magazine

FBI Publications (M) Sdn Bhd | 9-3, jalan PJU 5/6, Dataran Sunway, 47810 Petaling Jaya, Selangor