Pengabain Nigeria terhadap Kelapa Sawit Menekan Kelapa Sawit Turun dari urutan Global


Keterangan: Grafik Produksi Minyak Kelapa Sawit Nigeria

Keterangan: Mesin Penggilingan untuk Petani Kecil di Nigeria

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, perkebunan kelapa sawit merupakan sektor utama di perekonomian Nigeria.


Sektor tersebut menghasilkan sekitar 43 persen dari total produksi dunia. Nigeria dianggap sebagai pemimpin pasar minyak kelapa sawit dunia. Produksi minyak kelapa sawit melampaui konsumsi domestik, dengan kelebihan produksi diekspor ke pasar minyak kelapa sawit dunia.


Namun, dalam beberapa dekade terakhir, negara tersebut telah menjadi importir minyak kelapa sawit karena kelalaian sektor tersebut. Hari ini, Nigeria memproduksi kurang dari dua persen hasil global.


Data menunjukkan penurunan sektor tersebut di tengah kepopulerannya di tahun 1970-an, ketika lebih sedikit dana diberikan kepada petani, produsen dan peneliti.


Di negara bagian Edo, Akwa Ibom dan Ondo States, di mana perkebunan minyak kelapa sawit merupakan bagian dari kehidupan dan budaya karena ketersediaannya di wilayah tersebut, kebanyakan wanita dan pria yang terlibat dalam budidaya dan pengolahan buah sawit, yang diwawancarai, mengatakan bahwa produksi mereka telah berkurang karena kurangnya dukungan yang signifikan berupa pinjaman lunak hingga penyediaan bahan tanam yang layak serta perlengkapan lain yang diperlukan.


Dengan populasi lebih dari 197 juta orang, Nigeria mengkonsumsi sekitar 3 juta metrik ton (MT) lemak dan minyak setiap tahun di mana minyak kelapa sawit menyumbangkan sekitar 45 persen dari total konsumsi di tahun 2018.


Nigeria merupakan konsumen minyak kelapa sawit terbesar di Afrika dengan 1,34 juta MT di tahun 2018, menurut analis dari PriceWaterhouseCoopers (PWC), sebuah perusahaan audit internasional.


Tidak ada dana

Pemeriksaan tersebut juga telah mengungkapkan bahwa petani kelapa sawit di wilayah tersebut tidak memiliki akses subsidi maupun pinjaman lunak dari pemerintah federal meskipun minyak kelapa sawit termasuk di antara tanaman yang diamanatkan dalam Program Peminjam Jangkar (Anchor Borrowers’ Programme / ABP) pemerintah federal.


Presiden Muhammadu Buhari pada bulan November 2015, meluncurkan ABP untuk menyediakan bantuan dan dana kepada petani kecil untuk mendorong produksi pertanian dan bagi negara untuk mengembalikan defisit pembayaran makanannya di neraca.


Petani dalam naungan program ini termasuk yang membudidayakan serealia, kapas, akar dan umbi-umbian, tebu, tanaman pohon (kakao, karet, kelapa sawit, dan lain-lain), kacang-kacangan, tomat dan ternak.


Pinjaman dicairkan melalui bank, lembaga keuangan pembangunan dan bank mikro, di mana semuanya diakui sebagai lembaga keuangan yang berpartisipasi.


Menurut pedoman program, setelah panen, petani yang mendapat manfaat diharapkan untuk membayar kembali pinjaman mereka dengan hasil panen, yang harus mencakup pokok pinjaman dan bunga, kepada ‘jangkar’ yang membayar uang tunai yang setara ke rekening petani.


Ododo Olotu, 69, berasal dari Negara Bagian Delta, yang pindah ke Negara Bagian Ondo dalam upaya mencari pekerjaan yang lebih baik dalam perkebunan kelapa sawit 35 tahun yang lalu, mengatakan bahwa ia tidak pernah menerima subsidi pemerintah.


Perkebungan dia luasnya sekitar 700 hektar di Benin tidak ditanami karena dia tidak memiliki dukungan keuangan yang bisa digunakan untuk penanaman.


“Pemerintah tidak mendengarkan siapa pun, kami hanya mengelola sendiri untuk memberi makan anak kami dan membayar biaya sekolah mereka,” katanya. “Ada uang dalam produksi minyak kelapa sawit, kakao dan jagung. Seperti saya sekarang, jika pemerintah dapat memberikan bantuan 10 juta Naira dalam rekening saya, dan mengawasi saya, itu akan sangat membantu.”


Juru bicara Bank ternama di Nigeria (CBN), Isaac Okoroafor, mengatkan bahwa sekitar 49,6 miliar Naira (12 juta Dolar Amerika) telah dibagikan melalui Fasilitas Pendukung Sektor Riil dan Skema Kredit Pertanian, bagi aktivitas rantai pasokan kelapa sawit.


“Dengan Skema Investasi Agribisnis / Usaha Kecil dan Menengah, 1,5 miliar Naira (3,6 juta Dolar Amerika) telah dibagikan kepada 248 petani kelapa sawit dan pengolah kelapa sawit,” katanya dalam sebuah teks.


Peluang yang Belum Dimanfaatkan

Sebuah penilaian terhadap pasar minyak kelapa sawit menunjukkan bahwa kebanyakan petani menjual produk mereka pada harga pasar yang tersedia, karena harga terus berfluktuasi.


Pada tahun 1965, Bank Dunia menyuntikkan dana hampir 2 miliar Dolar Amerika ke lebih dari 45 proyek di Asia Tenggara, Afrika, dan sebagian Amerika Latin untuk mendukung pertumbuhan industri minyak kelapa sawit. Indonesia menerima 618,8 juta Dolar, merupakan nilai tertinggi; Nigeria menerima 451,5 juta Dolar, sementara Malaysia menerima 383,5 juta Dollar.


Sejak tahu 1975 hingga 2009, Nigeria tetap menjadi penerima dana Bank Dunia terbesar kedua untuk investasi minyak kelapa sawit dalam enam peoyek. Namun, hanya satu proyek yang masih bertahan sedangkan yang lainnya bankrut.


Menurut CBN, jika Nigeria telah mempertahankan dominasi pasarnya di industri minyak kelapa sawit, negara tersebut akan menghasilkan sekitar 20 miliar Dolar setiap tahun dari budidaya dan pengolahan minyak kelapa sawit pada masa sekarang.


Meskipun Nigeria adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di Afrika, Benin adlaah pengekspor komoditas terbesar dari Afrika sejak tahun 2018. Nigeria merupakan negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar keenam di Afrika, menurut PWC.


Data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat menambahkan bahwa Nigeria mengimpor 350 MT minyak kelapa sawit di tahin 2019 dan 400 MT di tahun 2020.


Produk utama

Kelapa sawit merupakan sayuran yang dapat dimakan dengan nilai ekonomi yang beragam, mulai dari daunnya hingga tubuh pohon, yang kaya dengan lemak jenuh.


Kelapa sawit disepakati umumnya berasal dari kawasan hutan hujan tropis Afrika Barat yang membentang melalui garis lintang Selatan Kamerun, Pantai Gading, Ghana, Liberia dan Nigeria, Sierra Leone, hingga ke wilayah khatulistiwa Angola.


Terbentuknya perdagangan minyak kelapa sawit dari Afrika Barat terutama disebabkan oleh revolusi industri di Eropa. Minyak kelapa sawit menjadi bahan baku utama untuk produksi sabun, dan karen meningkatnya permintaan sabun, maka dibutuhkan adanya ketersediaan minyak nabati yang cocok untuk produksinya, sehingga permintaan minyak kelapa sawit meningkat.


Ketersediaannya di bagian selatan negara tersebut terutama di Negara Bagian Akwa Ibom sangat berkaitan dengan jenis tanah.


Menurut Usen Offiong, dosen senior di departemen ilmu tanah, Universitas Uyo, pohon kelapa sawit dapat beradaptasi pada jenis tanah yang berbeda namun yang paling cocok adalah tumbuh di lahan lembab dan berdrainase baik.


“Pohon kelapa sawit tumbuh dengan baik di lingkungan yang menguntungkan, meskipun ia dapat beradaptasi pada jenis tanah yang berbeda, ia memerlukan tanah yang lembab, dalam dan berdrainase baik serta kaya dengan kandungan humus. Tanah berpasir, terutama di pesisir tidak cocok untuk budidaya kelapa sawit,” kata Usen.


“Pohon kelapa sawit membutuhkan udara dan sinar matahari yang cukup, tanah liat yang berat dengan drainase yang buruk akan menyebabkan gangguan aerasi pada tanaman selama musim hujan,” tambahnya.


Kendala Utama — Pakar

Billy Ghansah, koordinator pertanian, Perusahaan Kelapa Sawit Okomu, mengatakan bahwa ada sedikit ruang untuk ekspor ketika Nigeria merupakan net importir kelap sawit, ditambahkan juga bahwa negara tersebut hanya bisa mengekspor ketika ia mampu memproduksi cukup untuk melayani keperluan domestik.


“Jangan lupa bahwa ada selisih besar antara produksi domestik dan konsumsi. Dan jika anda tidak dapat memuaskan pasar lokal, maka tidak ada insentif bagi anda untuk mengeskpor,” katanya.


Ia mengatakan bagi Nigeria untuk mengisi selisih yang ada dalam produksi minyak kelapa sawitnya, maka dibutuhkan untuk menanam 100.000 hektar kelapa sawit saat ini.


Dia mengatakan bahwa strategi budidaya dasar kelapa sawit dikembangkan di Afrika, teteapi kami (Nigeria) tidak memanfaatkannya, dan Asia mengambil alih dan terus maju, sehingga orang berpikir bahwa mereka mengambil benihnya dari sini.


“Mereka tidak,” tambahnya. Dia menjelaskan bahwa mereka (Asia) menggunakan apa yang mereka miliki dan diimporvisasi.


Dia mengatakan bahwa perkembangan terbesar adalah pengembangan benih (kultivar) untuk produksi, yang menyumbang peningkatan terbesar dalam hasil panen.


Dengan cara yang sama, pelaksana tugas direktur eksekutif Lembaga Penelitian Minyak Kelapa Sawit Nigeria (Nigerian Institute for Oil Palm Research / NIFOR), Celestine Ikuenobe mengatakan bahwa tantangan utama yang mengganggu sektor kelapa sawit adalah rendahnya tingkat penanaman dan akuisisi lahan di wilayah tropis negara di mana tanaman dapat tumbuh subur dan berbunga dengan baik.


Dia mengatakan bahwa mereka telah mendesak petani untuk menggantikan tanaman lama dengan bibit yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas.


Lebih dari itu, direktur utama Presco Plc, Felix Nwabuko, mengatakan terlepas dari potensi yang dimiliki oleh rantai nilai kelapa sawit, semuanya menderita akibat kelalaian, seperti halnya sektor pertanian Nigeria secara keseluruhan.


Sebagai sumber makanan, ia juga memiliki potensi besar untuk mengatasi ketahanan pangan karena populasi yang besar dan bertumbuh di wilayah Afrika Barat.


“Dan itulah yang mendorong program ekspansi kami,” tambahnya. Memperhatikan bahwa kekurangan Nigeria adalah keinginan untuk secara efektif dan efisien menindaklanjuti kebijakan sejak dibuat hingga eksekusi.


Bergerak maju

Tuan Nwabuko mengatakan keinginan dia adalah untuk melihat minat untuk mengembangkan rantai nilai berkelanjutan kelapa sawit, dan bukan hanya untuk mengambil keuntungan yang cepat darinya.


“Kelapa sawit bukanlah tempat di mana anda dapat mendapatkan keuntungan cepat, ia membutuhkan kesabaran. Sejak dari hari anda memulai, sebelum anda mulai meraup keuntungan, akan membutuhkan beberapa tahun jika anda adalah pendatang baru.”


Ia mengatakan yang berminat, dan pemerintah juga, harus menyadari apa yang dibutuhkan untuk membuatnya berhasil, sementara menegaskan kembali bahhkan setelah meluncurkan Kebijakan Minyak Kelapa Sawit Nasional Nigeria, yang membahas masalah itu, “Mari mulai mengimplementasinya,” katanya.


“Mari kita miliki platform untuk mendorong kebijakan tersebut dan karena itu sebagian dari kita telah mengagitasi Dewan Kelapa Sawit Nigeria, seperti yang ada di Malaysia – Dewan kelapa sawit Malaysia.


“Ia merupakan dewan yang berdedikasi untuk memastikan kebijakan diterapkan, dan juga memeriksa apa yang terjadi di industri, serta memastikan hal yang benar dilakukan di industri,” kata Tuan Nwabuko.


“Ketika ada menggabungkan semua hal ini, saat itulah impian kami untuk industri kelapa sawit dapat tercapai,” tutupnya.