Minyak kelapa sawit mentah berubah menjadi kontrak perdagangan hasil pertanian terbesar

Minyak kelapa sawit mentah berubah menjadi kontrak perdagangan hasil pertanian terbesar yang diperdagangkan di India


Kontrak kelapa sawit mentah (crude palm oil / CPO) telah bertumbuh menjadi kontrak perdagangan jangka panjang terbesar di negara tersebut dalam delapan bulan pertama tahun 2020, karena resiko biaya yang terus memberikan ketidakpastian di negara produsen sebagai akibat dari pandemi yang mendorong partisipasi setiap pelaku lindung nilai dan spekulan yang ada di pasaran.


Menurut informasi dari situs Multi Commodity Exchange’s (MCX), perputaran harian kontrak minyak kelapa sawit mentah adalah 2,736 miliar Rupee India.Nilai rata-rata harian adalah 39.068 ton, atau lebih dari 5 persen jumlah impor bulanan negara.


Perputaran dari bulan Januari hingga Agustus berjumlah 6,6 juta ton, dan dihargai sekitar 462,38 miliar Rupee India, berdasarkan informasi yang telah dikonfirmasi.


“Pertukaran terus terlibat dalam menyediakan proses penentuan harga yang efisien dan kuat melalui jangkauan dan konsultasi rutin dengan para pemangku kepentingan dalam rantai nilai agri,” kata seorang pejabat senior MCX, di mana partisipasi yang meningkat merupakan hasil dari upaya perdagangan untuk berinteraksi dengan pelaku lindung nilai dalam mengelola nilai resiko mereka.


India merupakan salah satu pelanggan terbesar minyak kelapa sawit dan mengimpor lebih dari 9 juta ton dari Indonesia dan Malaysia. Di mana kedua lokasi internasional tersebut telah mengalami penurunan yang drastis dalam angka produksinya pada masa puncak pandemi.


Derasnya hujan di bulan Juni dan Juli juga telah mempengaruhi produksi minyak kelapa sawit Indonesia dan Malaysia, mengakibatkan lonjakan biaya terlepas dari penurunan angka konsumsi di seluruh dunia sebagai akibat dari pandemi. Di India, minyak kelapa sawit digunakan oleh resor, restoran dan perusahaan katering serta oleh rumah tangga berpenghasilan rendah hingga menengah.


Sebelum pandemi, harga minyak kelapa sawit telah mencapai 800 Rupee per 10 kg, harga yang berlebihan di MCX, di mana sebelumnya turun ke 650 Rupee India pada awal bulan April. Sejak saat itu, ketidakpastian mulai mendorong peningkatan biaya. Pada hari Selasa, ia diperjualbelikan dengan harga 781 Rupee India per 10 kg di MCX.


“Ketidak stabilan seperti ini memberikan alasan yang sempurna untuk menggunakan lindung nilai resiko bagi importir minyak nabati,” kata Kunal Shah, Such volatility makes a perfect case of need for hedging price risks for edible oil importers,” stated Kunal Shah, analis komoditas ternama di Nirmal Bang.


Pedagang india menghadapi ancaman lain dari penyesuaian cakupan, di mana pemerintah federal sedang mempertimbangkan cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil pertanian impor. Di bagian minyak nabati, pemerintah federal telah berada di bawah tekanan untuk mengurangi impor berbagai macam produk jadi untuk memperluas pemanfaatan kapasitas penyulingan dalam negeri.


Selain itu, penyesuaian dalam tugas dan revisi tarif dasar setiap dua minggu, di mana merupakan dasar kewajiban impor, mewajibkan importir untuk mengambil beberapa batasan dalam platform lindung nilai jangka panjang.

Recent Posts

See All

advertisement

Copyright 2020 Asia Palm Oil Magazine

FBI Publications (M) Sdn Bhd | 9-3, jalan PJU 5/6, Dataran Sunway, 47810 Petaling Jaya, Selangor