Minyak kelapa sawit menekan petani kelapa di Asia Tenggara

Lucio Tena, 64, telah menanam kelapa pada lahannya seluas 20 hektar (49 ekar) di General Nakar, di negara Asia Tenggara, Filipina, lebih dari empat dekade. Namun situasi yang dihadapi oleh petani seperti dia saat ini adalah yang terburuk yang dia alami selama hidupnya. “Harganya sangat rendah saat ini,” kata Tena dalam percakapan tahun lalu, di pintu masuk rumah kayu dengan tiga kamar yang ditinggali bersama istrinya. “Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.”


Tena tidaklah sendirian. Petani kelapa manghadapi tantangan yang serius di Asia Tenggara, terutama karena rendahnya harga. Minyak kelapa, produk turunan yang paling banyak diproduksi, dijual senilai 836 Dolar Amerika per ton bulan November lalu, kurang dari setengah dari harga dua tahun lalu.



Di General Nakar, berarti kurang dari 15 Peso Filipina (30 sen Dolar Amerika) untuk sekilo copra, biji kelapa yang dikeringkan yang digunakan untuk memproduksi minyak kelapa, atau 7 Peso sebiji, harga Tena menjual kelapa-kelapanya.


“Banyak orang di Filipina bergantung pada perkebunan kelapa sebagai mata pencaharian,” katanya. “Kami semua berharap akan masa depan yang lebih baik, untuk mengangkat kami dari kemiskinan.”


Ada lebih dari 3,5 juta petani kecil perkebunan kelapa seperti Tena di Filipina, eksportir kelapa terbesar di dunia, dan sekitar 4 juta di Indonesia, sebagai eksportir terbesar kedua. Kedua negara tersebut menyumbangkan sekitar 60% produksi kelapa secara global dilihat dari area lahan. Seperti halnya di negara lain, perkebunan kelapa ini dikelola sepenuhnya oleh petani kecil.


Di kedua negara, petani mengalami kesulitan karena rendahnya harga, kurangnya bantuan pemerintah, dan persaingan dari produk lain: minyak kelapa sawit. Minyak yang bisa dimakan itu telah banyak di promosikan dan disubsidi oleh pemerintah di Indonesia dan Malaysia — yang bersama-sama bertanggung jawab atas produksi minyak kelapa sawit terbesar di dunia — dan, semakin meningkat di Filipina. Minyak kelapa sawit telah membanjiri pasar Asia Tenggara, karena harganya yang rendah, telah menggantikan minyak kelapa, pilihan yang lebih tradisional di dapur di di wilayah tesebut.


“Beberapa petani kelapa hanya membiarkan kelapa tumbuh di lahan mereka dan tidak memprosesnya,” kata Jun Pascua, direktur Pambansang Katipunan ng Makabayang Mambubukid (Gerakan Petani Nasional), sebuah asosiasi di Filipina yang mewakili petani. Sementara yang lainnya menjual lahan mereka kepada penanam kelapa sawit, karena negara terus bertujuan meningkatkan produksi domestik kelapa sawit, tambahnya.


Dari kelapa hingga kelapa sawit

Situasi di Filipina saat ini mirip dengan Indonesia pada beberapa dekade lalu. Kini di Indonesia, minyak kelapa sawit merupakan pendorong utama ekonomi nasional bukan hanya sebagai ekspor utama, juga sebagai minyak goreng dan, menjadi campuran bahan bakar transportasi nasional karena meningkatnya kewajiban bahan bakar hayati. Tetapi belum lama ini, minyak kelapa sawit merupakan bagian utama.


“Sejak tahun 1970-an hingga 1980-an, kebanyakan masyarakat di Indonesia mengkonsumsi minyak kelapa sebagai minyak goreng,” kata Amrizal Idroes, pendiri Asosiasi Produsen Produk Kelapa Indonesia (Indonesian Association for Coconut Product Manufacturers / IACPM), dan telah bekerja sama dengan industri kelapa selama hampir tiga dekade.


Minyak kelapa telah lama digunakan di negara Asia Selatan seperti India, dan di Asia Tenggara sebagai minyak goreng. Pohon kelapa (Cocos nucifera), tumbuh di kepulauan Filipina dan Indonesia selema beberapa abad, diproduksi bukan hanya untuk minyaknya, namun juga untuk susu, air, gula dan beragam produk lainnya, dikonsumsi sepenuhnya oleh warga setempat. Selain itu, mereka juga tumbuh bersamaan dengan tumbuhan tropis seperti pisang, ubi, kopi dan kokoa, bagian dari lanskap yang serba guna.


Hal itu mulai berubah ketiak kelapa sawit Afrika (Elaeis guineensis), yang dibawa oleh penjajah asal Belanda mulai berkembang di tahun 1970-an. Dalam beberapa dekade, minyak kelapa sawit berubah menjadi produk khusus menjadi produk ekspor terbesar, menggantikan kelapa dengan cepat. Ia sangat dicari karena beberapa alasan: efisiensi industrial, hasil panen yang banyak, tidak berbau, dan kemudahan transportasi serta pemrosesan. Ia kini menjadi minyak makan yang paling banyak dikonsumsi di dunia, di mana India merupakan importir terbesar minyak kelapa sawit.


“Minyak kelapa kalah bersaing dengan minyak goreng dari kelapa sawit,” kata Amrizal. “Begitu pemerintah mempromosikan minyak kelapa sawit, masyarakat mulai memilihnya karena lebih murah.”


Proses ini mungkin akan berulang di Filipina. Sejak tahun 2010, minyak kelapa sawit yang diimpor dari Indonesia ataupun Malaysia telah menggantikan minyak kelapa sebagai minyak paling laku di toko grosir, menurut United Coconut Association di Filipina. Seperti di Indonesia, alasannya karena harganya yang rendah — seringkali setengah dari harga minyak kelapa.