Kolaborasi adalah Kunci Peningkatan Pelataihan bagi Petani Kecil Kelapa Sawit di Indonesia


Keterangan: Para petani di perkebunan (Sumber dari RSPO)

Memberikan pelatihan tentang keberlanjutan bagi petani kecil di Indonesia, yang merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, merupakan sebuah tantangan. Ada sekitar 2,5 juta petani kecil dalam negeri tersebut – sebuah aset yang penting bagi industri. Namun masih banyak petani kecil yang independen – mungkin karena isolasi geografis, kurangnya akses ke pelaku rantai pasok, atau tidak adanya dukungan dari organisasi pendukung – tidak memiliki akses terhadap pelatihan terstruktur atau sumber pengetahuan lainnya yang terpercaya dalam perkebunan kelapa sawit.


Melihat hal ini, RSPO merintis Akademi Pelatih Petani Kecil (Smallholder Trainer Academy / STA). Berdedikasi untuk mengembangkan komunitas pelatih di seluruh negeri, ini membantu membangun kapasitas di tengah petani kecil yang terus bertumbuh. Sejak peluncurannya di November 2019, kini lebih banyak petani kecil yang mampu menunjukkan bukti kepemilikan lahan yang sah, menggunakan praktik pertanian yang baik dan merupakan anggota kelompok petani (koperasi, asosiasi, ddan lain-lain).


Kunci kesuksesannya adalah kemitraan. Dengan bekerja sama dengan 12 organisasi lokal di Indonesia, STA RSPO telah berhasil melatih 6.635 petani kecil terhitung hingga April tahun ini.

Guntur Prabowo, Manager Program Petani Kecil di Indonesia, mengatakan “meskipun pengetahuan saja tidak dapat (setidaknya tidak langsung) mengatasi masalah lain, seperti kurangnya akses ke teknologi, pasar dan pembiayaan, ia masih merupakan kondisi yang diperlukan untuk menciptakan mata pencaharian yang berkelanjutan. Tanpanya, praktik pertanian tradisional, yang mungkin termasuk praktik yang merusak lingkungan, diturunkan dari generasi ke generasi”. Tidak ada solusi “satu untuk semua” dikarenakan kebutuhan yang berbeda dan kenyataan dari berbagai petani kecil. Dengan kenaikan 170% petani kecil yang mendapatkan sertifikasi tahun lalu, kami melihat bahwa sebagian besar biaya program berasal dari pemberian pelatihan dan dukungan teknis. “Kami perlu bekerja sama dengan lebih banyak organisasi dan perusahaan untuk mempermudah dan mempermurah akses pengetahuan dan keahlian bagi petani kecil” tambahnya.


STA menyadari kebutuhan untuk beralih dari mengembangkan organisasi menjadi pengembangan dampak melalui jaringan perantara, instansi, organisasi, dan inisiatif yang secara aktif mengejar tujuan yang sama. Hal ini memastikan upaya membangun praktik yang ada dan mendukung program pemerintah yang ada untuk meningkatkan dan menjangkau lebih banyak petani. Kolaborasi pelatihan terbaru antara STA dan Yayasan Kehati di bawah naungan program SPOS Indonesia, memberikan pemahaman akan keberlanjutan dan mendorong petani kecil di tiga provinsi penghasil untuk berpartisipasi dalam rantai nilai formal sertifikasi ISPO & RSPO.


Irfan Bakhtiar, direktur SPOSI berpendapat bahwa inilah saatnya bagi petani kecil untuk memiliki kesadaran penuh untuk memenuhi standar keberlanjutan. “Dengan ISPO menjadi wajib pada tahun 2025, harus ada metode pengembangan kapasitas generik yang dikembangkan bagi petani kecil.”


Pelatihan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat dipimpin oleh Pelatih Utama STA dari berbagai organisasi yang berpartisipasi yang berfokus pada pendekatan pembelajaran orang dewasa berdasarkan kebutuhan dan hasil kelompok petani.


Sesi pelatihan fokus pada topik yang mencakup keberlanjutan lingkungan, ekonomi dan sosial serta pembentukan kelompok kesehatan dan keamanan petani kecil. Topik-topik tersebut dikurasi dengan tujuan membantu petani kecil lebih memahami pendekatan berkelanjutan menuju penanaman pohon kelapa sawit jangka panjang.


Harris Silalahi, salah seorang Pelatih Utama STA merupakan pemimpin pelatih untuk pelatihan bersama Yayasan Kehati. Bapak Harris memiliki 15 tahun pengalaman sebagai konsultan individu dan pelatih di bawah De Guru Consulting di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa “Sama seperti semua orang, petani kecil kelapa sawit belajar dengan cara lain. Misalnya, sementara materi cetak cenderung beresonansi dengan orang dengan kecerdasan visual spasial dan verbal linguistik, pembinaan dan pendampingan untuk pembelajaran berbasis transaksi mungkin lebih berhubungan dengan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, dan pelatihan berbasis lapngan misalnya dapat memicu kecerdasan logis orang-orang dengan kecerdasan matematis dna naturalistik.


“Petani kecil juga belajar di tempat yang berbeda. Bagi kebanyakan orang, ruangan kelas akan terasa tidak biasa dan membosankan namun mungkin juga jauh dan nilai kerugiannya lebih tinggi. Tempat belajar yang lebih layak kemungkinan adalah pertanian mereka sendiri atau di sekitarnya, pabrik terdekat, ataupun melalui telepon genggam mereka.”


Pelatihan termasuk latihan interaktif dan diskusi di antara petani kecil untuk mendorong partisipasi. Kontennya dirancang dengan masukan dari petani kecil atas dasar kemampuan mereka untuk mengerti konteks dan kendala bahasa.


Muhammad Ramli, salah seorang petani kecil yang mengikuti pelatihan mengatakan, “Kini kami lebih mengerti apa yang menjadi praktik pertanian yang baik dan pentingnya pencatatan, berkat dari pelatihan 4-hari ini. Kami berharap kami dapat terus menerapkan apa yang telah kami pelajari agar dapat mengakses peluang sosial dan ekonomi yang lebih baik sambil hidup selaras dengan lingkungan.


Ini bukan pelatihan pertama. STA telah bekerja sama dengan Pelatih Utama STA global untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang penanaman berkelanjutan sejak akhir tahun 2019. Hingga April 2021, mereka telah berhasil melatih total gabungan 7.456 petani kecil, manajer kelompok dan pelatih komunitas secara global.


Sejalan dengan Strategi Petani Kecil RSPO, tujuan STA adalah untuk meningkatkan mata pencaharian petani kecil dan memungkinkan mereka untuk bertahan hidup serta berkembang dengan mengurangi jumlah bantuan eksternal.


“Program mata pencaharian petani kecil kami melampaui sertifikasi. Sementara pelatihan menjembatani kesenjangan pengetahuan dan jalur menuju sertifikasi, yang lebih penting adalah menjadikan penanaman kelapa sawit berkelanjutan sebuah norma. Ini kami percayai, akan bekontribusi secara signifikan untuk meningkatkan mata pencaharian petani kecil” menurut Kertijah Abd Kadir, Manajer Program Mata Pencaharian Petani Kecil.


Akademi Pelatihan PEtani Kecil (Smallholder Training Academy / STA), sebuah inisiatif dari Kelompok Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan (Roundtable of Sustainable Palm Oil / RSPO), merupakan platform pelatihan bagi petani kecil secara global untuk mengakses pengetahuan dan pelatihan berkualitas tinggi guna membangun kapasitas mereka untuk mencapai mata pencaharian yang berkelanjutan.


Sumber: www.thejakartapost.com

Related Posts

See All