Keberlanjutan Dan Produktivitas Berjalan Bersamaan: Bagaimana Petani Kecil Di Indonesia Menuntun

Oleh: Guntur Prabowo, Manajer Program (Petani Kecil Indonesia), RSPO


Keberlanjutan Dan Produktivitas Berjalan Bersamaan: Bagaimana Petani Kecil Di Indonesia Menuntun

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan resesi pertama di Indonesia dalam lebih dari dua puluh tahun. Industri minyak kelapa sawit dalam negeri, terutama, melihat produksi dan perdagangan menurun akibat gangguan pada rantai pasokan dan operasional. Dengan Indonesia memasok lebih dari setengah minyak kelapa sawit dunia, pemulihtan produtivitas kritikal bagi industri dan negara.


Meskipun kepemilikan mereka relatif lebih kecil, petani kecil sangat penting bagi keberhasilan minyak kelapa sawit. Di seluruh negeri, sekitar 2,67 juta petani kecil terdiri dari 40 persen dari total lahan perkebunan kelapa sawit, namun banyak yang jarang menerima pelatihan ataupun bantuan. Petani swadaya biasanya belajar cara menanam kelapa sawit dari rekan-rekan mereka atau dengan cara mencoba-coba.


Mengingat pentingnya industri bagi perekonomian nasional, produktivitas mereka penting bagi seluruh sektor pertanian. Beberapa petani kecil Indonesia telah menunjukkan bahwa dengan adanya akses ke pelatihan dan peralatan, mereka mengadopsi praktik ramah lingkungan dan meningkatkan mata pencaharian serta memberdayakan masyarakat yang lebih banyak dengan berbagi dan menciptakan pendekatan baru di seluruh lahan pertanian dan kotapraja.


Pelatihan Keberlanjutan Meningkatkan Produktivitas

Sebagai contohnya, program pelatihan di Sumatera Utara, yang didirikan oleh Koperasi Produsen Mandiri Gaharu Seratus Bosar Maligas, memungkinkan petani untuk mempelajari metode pertanian berkelanjutan di berbagai bidang seperti penilaian panen dari penggunaan pupuk organik dan pengukuran protokol keselamatan tempat kerja.


Menurut para pemimpin koperasi, praktik-praktik tersebut telah membuahkan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, yang menghasilkan panen yang lebih banyak.


Koperasi Asosiasi Petani Kelapa Sawit Swadaya Mandiri, yang berlokasi di Provinsi Riau, melatih petani untuk meningkatkan takaran pemupukan, mencegah erosi lahan dan memisahkan sampah organik dari non-organik. Selain melindungi lingkungan lokal, praktik tersebut juga memberdayakan petani dengan meningkatkan hasil minyak kelapa sawit mereka sementara menurunkan biaya produksi.


Ini hanyalah dua contoh produktivitas keberlanjutan yang dipimpin dari atas ke bawah, dan upaya mereka memengaruhi praktik yang lebih baik di bidang pertanian lainnya. Berdasarkan karya petani kelapa sawit di Sumatera Utara, penggunaan pupuk organik akan dikembangkan ke peternak domba di daerah tersebut, yang mencegah penyebaran pestisida berbahaya yang mengancam kesehatan domba maupun buruh tani.


Penyiangan dengan kontrol selektif yang diimplementasikan oleh Koperasi Mulia Bakti di Sumatera Selatan juga telah mengurangi biaya produksi serta meningkatkan hasil, tetapi yang lebih penting adalah ia telah memberdayakan koperasi untuk menggunakan keuntungan tunai yang diterima untuk memulai unit usaha yang menyediakan modal bagi anggotanya untuk meremajakan perkebunan mereka.


Petani kecil kelapa sawit telah menunjukkan bahwa keberlanjutan dan produktivitas tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Selain itu, manfaatnya jarang berdiam hanya pada satu koperasi. Menyediakan pelatihan dan kesempatan belajar bagi petani kecil diterjemahkan menjadi nilai nyata bagi komunitas yang lebih luas dan di seluruh arus kerja.


Pelatihan Keberlanjutan Memberikan Manfaat di Luar Koperasi

Belajar dari pelatihan keberlanjutan, pengelolaan perkebunan dan keselamatan kerja di Koperasi Karya Bersama kini juga diadopsi yang bukan merupakan anggota mereka, mengingat manfaat nyata yang diperoleh oleh rekan-rekan kerja mereka dalam hal harga dan volumen penjualan yang lebih tinggi.


Di Kalimantan Tengah, petani dilatih untuk bercocok tanam dengan tumpang sari, di mana dua atau lebih banyak tanaman lain ditanam berdekatan. Alhasil, petani meningkatkan hasil panen maksimal mereka dan mengurangi biaya terkait pemeliharaan lahan.


Mereka juga belajar untuk menanam tanaman komersial seperti terong, cabai, dan kangkung, meningkatkan perndapatan keluarga dan menawarkan ketahanan pangan serta swasembada yang lebih baik. Sebagai bonus tambahan, tumpang sari mempekerjakan mereka yang tidak memiliki akses ke lahan.


Ini hanyalah beberapa contoh, namun mereka membuktikan bahwa sektor pertanian dapat menuai hasil dari metode yang berkelanjutan selama petani diberikan akses ke pelatihan dan pendidikan yang sesuai.


Pemerintah Indonesia baru-baru ini menandatangani Platform for Redesign 2020, sebuah agenda internasional yang berupata merevitalisasi ekonomi dan melindungi lingkungan melalui pengembangan berkelanjutan. Seperti yang telah ditunjukkan oleh petani kecil, praktik berkelanjutan merupakan solusi dua arah bagi perlindungan lingkungan dan produktivitas komersial. Mereka juga menciptakan kesempatan untuk memacu inovasi lokal.


Petani kecil baru saja memulai perjalanan berkelanjutan mereka dan membutuhkan dukungan eksternal untuk menjaga momentum. Untuk meningkatkan hasil ini, produsen barang konsumsi dan pengecer harus mulai untuk membeli kredit petani kecil yang diinvestasikan secara langsung dalam upaya dan mata pencaharian mereka.


Konsumen juga harus meningkatkan permintaan untuk produk minyak kelapa sawit yang bersertifikat berkelanjutan.


Covid-19 telah memengaruhi banyak jiwa, dan banyak petani yang masih menghadapi situasi genting. Akses ke pelatihan dan pendidikan masuk akal secar bisnis dan membantu masyarakat lokal membangun kembali mata pencaharian mereka dan bertahan di masa-masa yang penuh tantangan ini.