Industri 4.0 di Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Ditulis oleh Hong Wai Onn, Insinyur Teknik Kimia Profesional, Malaysia

Walaupun kita masih belum berpindah-pindah dengan roket di punggung kita, namun kehidupan dalam beberapa tahun ini masih sangat berbeda bahkan dengan sepuluh tahun yang lalu, terutama dengan perkembangan teknologi dan penemuan-penemuan yang kita lihat setiap tahun.


Dalam dekade terakhir, menggunakan aplikasi untuk memesan transportasi ataupun mengirim uang ke teman-teman anda atau membeli segala sesuatu hingga pakaian, pengiriman makanan, bahan makanan, dan banyak lagi telah menjadi hal yang biasa dan berbicara dengan pengeras suara untuk menyalakan lampu, memainkan lagu, atau membacakan resep menjadi hal yang normal.

Kita memang bener sedang berada di ambang revolusi teknologi yang akan merubah cara kita hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain secara mendasar.


Sebelum kita telusuri lebih dalam, mari merefleksikan perkembangan revolusi industri. Revolusi Industri Pertama menggunakan air dan uap sebagai penggerak mesin produksi. Yang Kedua menggunakan tenaga listrik untuk berproduksi secara massal. Yang Ketiga menggunakan perangkat elektronik dan informasi teknologi untuk mengotomasi produksi.


Dan pada saat ini Revolusi Industri Keempat dibangun di atas fondasi dari yang Ketiga, revolusi digital yang telah berlangsung sejak pertengahan abad terakhir. Ciri-cirinya adalah perpaduan teknologi yang menghilangkan batas antara fisik, digital dan biologi.


Jelas bahwa masa depan teknologi akan terus merevolusi kehidupan kita. Meskipun saya juga tidak tahu persis bagaimana hal itu akan terjadi, namun satu hal yang pasti – kita, terlebih lagi industri kelapa sawit, tidak dapat berpaling dari gelombang perubahan.

Industri minyak kelapa sawit merupakan kontributor yang signifikan terhadap ekonomi Malaysia dan dalam perihal sumber daya alam berada di peringkat kedua di bawah minyak dan gas. Total ekspor minyak kelapa sawit Malaysia dan turunannya menghasilkan 64.8 miliar Ringgit Malaysia (atau 3.5 persen dari produk domestik bruto) kepada negara di tahun 2019.


Untuk berkembang dan tetap kompetitif secara global dan tetap relevan, industri pengolahan minyak kelapa sawit khususnya harus mengadopsi dan melengkapi dirinya dengan teknologi dan inovasi terbaru. Teknologi baru seharusnya menjadi katalis untuk modernisasi seluruh industri, membuatnya menjadi lebih produktif dan efisien sambil meningkatkan pertumbuhan dan penambahan nilai.


Saya percaya sangat penting bagu industri untuk terus bergerak maju menuju otomatisasi dan memanfaatkan Industri 4.0, bagian dari Revolusi Industri Keempat yang berhubungan dengan industri tersebut.


Penerapan Industri 4.0 tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional industri pengolahan minyak kelapa sawit secara keseluruhan namun juga menghasilkan pengembangan yang berkelanjutan, di mana presisi dari operasional terlihat dari pengurangan tenaga kerja, pengurangan resiko persediaan, keamanan proses, kualitas dan kontaminasi, serta peningkatan produktivitas.


Sudah jelas kita perlu berubah

Sudah terbukti kalau perubahan pasti terjadi. Namun apakah industri pengolahan minyak kelapa sawit sudah siap menghadapi perubahan?


Dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui PORIM (Palm Oil Research Institute of Malaysia) dan pada saat ini melalui MPOB (Malaysian Palm Oil Board), ada banyak sekali peningkatan dan perubahan berbagai unit operasional di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit Malaysia, tetapi mereka belum mengalami perubahan yang signifikan semenjak publikasi laporan Mongana oleh ilmuwan Kongo pada tahun 1950-an.


Masih ada ruang untuk perkembangan, terutama di bagian kontrol proses dan otomatisasi.


Ketika saya menjadi dosen tamu di universitas lokal belum lama ini, seorang mahasiswa teknik kimia bertanya kepada saya mengapa industri pengolahan minyak kelapa sawit jauh tertinggal dari Industri 4.0. Ini sungguh pertanyaan yang bagus.


Banyak alasan yang bisa menunda revolusi, tetapi saya berharap bukan disebabkan oleh keengganan berubah. Ada orang yang mungkin akan menolak perubahan karena mereka merasa nyaman dengan margin keuntungan yang ada dan merasa mempertahankan level pada saat ini lebih mudah.


Namun kenyataannya ketika kita sedang duduk nyaman berpikir bahwa semua sedang baik-baik saja (misalnya kita adalah perkebunan biji minyak yang paling efisien pada saat ini, kita lebih unggul daripada minyak nabati dan minyak kelapa sawit yang lain), kompetitor kita baru saja membeli mesin baru untuk perahu motor mereka (misalkan hasil panen kedelai di negara-negara penghasil utama meningkat 20 persen dalam 15 tahun terakhir), dan kita bukan hanya ketinggalan, kita juga sudah melenceng dari target.


Saya menyukai buku yang merincikan kegagalan dibandingkan dengan buku yang berisi kisah sukses. Biarkan saya berbagi satu cerita tentang kegagalan di dunia bisnis.


Kodak adalah raja di dunia fotografi. Secara umum, Kodak menemukan fotografi pada abad ke-20. Mereka menyempurnakan teknologinya dan pada tahun 1990-an kios Kodak dapat ditemukan di mana-mana.


Lalu, pada akhir tahun 1990-an fotografi digital mulai menjadi sebuah tren, dan Kodak memilih untuk menghiraukannya. Ada yang akan mengatakan begitulah nasib pemain “lama”, tetapi Nikon dan Canon merangkul perubahan digital dan muncul sebagai pilihan unggulan lagi, sementara Kodak yang terus menerus mengabaikan teknologi baru tersebut akhirnya menyatakan bankrut pada tahun 2012.


Meskipun perusahaannya masih ada hingga saat ini, anak-anak muda mungkin tidak ada mengenali nama tersebut.


Banayk orang akan mengatakan bahwa ini adalah kasus yang jarang terjadi di mana Kodak gagal melihat peluang baru dan beradaptasi. Benarkah demikian? Bagaimana dengan Yahoo!, Nokia dan BlackBerry?


Merangkul Industri 4.0 di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit

Perlu ada perubahan paradigma dan saya percaya kita harus bekerja sama membentuk masa depan pengolahan minyak kelapa sawit yang mengutamakan manusia, memberdayakan mereka dan terus menerus mengingatkan diri kita bahwa mengingatkan diri kalau teknologu diciptakan oleh manusia dan untuk manusia.


Misalnya, untuk menyederhanakan lingkungan kerja, mengurangi upaya manusia, mengurangi resiko keselamatan, dan lain-lain.