Indonesia mengundur target penyulingan bahan bakar minyak kelapa sawit hingga tahun 2026

Indonesia, produsen tersebesar minyak kelapa sawit, mengundur targetnya untuk menghasilkan bahan bakar yang sepenuhnya terbuat dari minyak kelapa sawit selama tiga tahun, ditunjukkan dalam sebuah dokumen negara.


Pemerintah pada awalnya bertujuan untuk memproduksi “bahan bakar ramah lingkungan” tersebut pada tahun 2023, namun memindahkan targetnya ke tahun 2026, menurut sebuah dokumen yang dipresentasikan oleh menteri perekonomian Airlangga Hartanto pada sebuah jumpa pers.



Indonesia merevisi targetnya setelah penelitian dan rencana investasinya terganggu oleh wabah coronavirus yang menginfeksi lebih dari 40.000 warga, kata Musdhalifah Machmud, wakil menteri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.


Indonesia sedang membangun penyulingan untuk memproses minyak kelapa sawit langsung menjadi bahan bakar. Kini mereka menggunakan bahan bakar hayati, yang dikenal dengan nama B30, yang diproduksi dengan menggabungkan asam lemak metil ester (FAME) minyak kelapa sawit dengan bahan bakar fosil.


“Salah satu alasan penundaan adalah COVID-19, namun pada umumnya investasi dan penelitian juga perlu dimulai secara benar dan hal itu memerlukan waktu” kata Machmud kepada Reuters dalam sebuah pesan singkat terpisah.


“bahan bakar ramah lingkungan” merupakan bagian dari rencana Indonesia untuk memaksimalkan penggunaan minyak kelapa sawit dalam negeri untuk menyerap pasokan yang berlebihan dan mengurangi impor bahan bakar yang mahal.


Indonesia telah menetapkan target untuk meningkatkan kewajiba kandungan FAME dalam bahan bakar sebesar 40% pada tahun 2021, dari kandungan yang sudah ambisius sebesar 30%, tetapi ditunda selama setahun karena harga minyak mentah yang rendah.