Bisakah tenaga dari limbah minyak kelapa sawit menggantikan bahan bakar fosil di Asia yang lebih mem

Tingkat kelembaban yang rendah dan nilai kalori yang tinggi, cangkang inti kelapa sawit cocok untuk pembakaran, namun kegunaannya untuk pembangkit tenaga listrik bukanlah tanpa tantangan. Apakah bahan-bahan ini dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim batu bara di Asia?


Apa yang terjadi dengan limbah yang menumpuk ketika buah kelapa sawit diolah?

Cangkang inti kelapa sawit (Palm kernel shells / PKS) adalah potongan yang tersisa ketika minyak kelapa sawit mentah diekstrak dari tandan buah dan minyak inti kelapa sawit telah diperas dari biji sawit. Ribuan ton cangkang berserat ini menumpuk di belakang pabrik kelapa sawit setiap tahunnya, namun untuk waktu yang lama, operator pabrik tidak tahu harus berbuat apa dengannya.


Kemudian muncullah industri biomassa. Meskipun kenaikan konsumsi batu bara di Asia bukan merupakan topik yang kontroversial seperti pada hari ini, perusahaan yang bermarkas di Singapura Provident Biofuels mengakui pada tahun 2011 bahwa membakar limbah biomassa seperti cangkang inti dapat membantu dalam mengurangi residu dari pembakaran batu bara, sudah mulai membeli bahan dari pabrik di Indonesia dan Malaysia untuk dijual kepada produsen tenaga listrik di wilayah tersebut.


Secara tradisional, sebagian dari cangkang inti digunakan dalam pabrik sendiri untuk kegunaan mereka sendiri, khususnya di Indonesia. Menghadapi pasokan tenaga yang tidak bisa diandalkan, mereka memasang pembakaran untuk menghasilkan tenaga listrik sendiri.


Namun sekitar setengah dari 7 juta ton cangkang inti yang berasal dari pabrik di Indonesia merupakan kelebihan yang tidak bisa digunakan. Bahan-bahan ini tidak hanya menarik serangga yang bisa merusak perkebunan, mereka juga menimbulkan ancaman kebakaran karena metana yang mereka hasilkan jika dibiarkan membusuk.


Untuk menghadapi risiko seperti ini, pabrik-pabrik biasanya membayar perusahaan lain untuk mengangkut dan membuang cangkang inti mereka. Ketika dicampur dengan beton, mereka bisa digunakan untuk mengaspal jalan dan digunakan dalam fondasi bangunan, namun sering kali mereka dibuang tanpa tanggung jawab, kata Douglas Tay, direktur Provident Biofuels.


“Langkah yang bisa diambil terbatas. Jika industri [biomassa] tidak ada, pabrik-pabrik masih akan membuang [cangkang inti sawit] ke dalam sungai, laut maupun di lahan terbuka,” katanya kepada Eco-Business.


Tay mengatakan bahwa perusahaan juga memiliki dampak positif terhadap komunitas lokal di Indonesia dan Malaysia melalui lapangan pekerjaan yang dia sediakan, karena ia perlu memperkerjakan ribuan orang untuk membeli cangkang inti sawit dan mengangkut mereka ke tempat penyimpanan perusahaan di mana mereka akan disaring dan dimuat untuk dikirimkan.” Kami menyediakan 8.000 lapangan pekerjaan, secara langsung maupun tidak langsung melalui rekan logistik kami,” katanya.


Kini, perusahaan membayar pabrik untuk cangkang yang mereka pasok, namun bahan-bahannya masih tetap murah. Bahan tersebut juga dapat dengan mudah ditangani dalam jumlah besar dan diangkut dengan proses yang minimal. Tetapi nilai kalorinya yang tinggi – mereka melepaskan energi dalam jumlah tinggi ketika dibakar – dan kadar airnya yang rendah dibandingkan dengan biomassa pertanian lainnya membuat mereka lebih menarik bagi perusahaan pembangkit listrik.


“Cangkang inti sawit hampir mirip dengan pelet alami biomassa. Biaya untuk membuat mereka siap untuk pembakaran hampir nol. Ketika mereka dikeringkan, kadar airnya menurun 20 persen, dan nilai kalori mereka sama dengan batu bara termal kualitas rendah,” jelas Tay.


Penyelamat iklim?

Menurut Ryuu Lee, yang mengelola perdagangan energi terbarukan untuk sebuah perusahaan dagang Jepang di Thailand, Hanwa, cangkang inti sawit adalah sumber energi terbarukan di mana tandan buah baru akan tumbuh menggantikan yang telah dipanen. Ketika ini terjadi, kelapa sawit kehilangkan karbon yang dikeluarkan ketika cangkangnya dibakar.


Hal ini membuat pembakaran mereka bebas karbon, dengan emisi bersih hanya dipompa ke atmosfer selama pengiriman, katanya, menambahkan cangkang inti sawit juga mengeluarkan lebih sedikit nitrogen oksida dan sulfur oksida daripada batu bara ketika dibakar.


Dan tidak seperti bahan biomassa lainnya, cangkang inti sawit tidak memiliki masalah waktu. Membakar cangkang inti sawit akan mengeluarkan karbon dalam jumlah besar, namun tidak membutuhkan waktu lama bagi tandan baru untuk tumbuh dan menyerap karbon yang dilepas ke atmosfer, dan juga kelapa sawit dipanen hingga tiga kali setiap tahun.


Hutan ditebang untuk menghasilkan potongan kayu dan pelet, di sisi lain, butuh waktu puluhan tahun untuk menyerap kembali gas yang dilepaskan oleh rumah kaca. Hal yang sama berlaku untuk residu yang dihasilkan oleh industri kayu dan furnitur yang digunakan untuk membuat pelet, yang dapat didaur ulang.


“Selain karbon dioksida yang dihasilkan selama pengiriman, tidak ada dampak lingkungan tambahan dari membakar cangkang inti sawit,” kata Lee, di mana perusahaannya membeli cangkang inti sawit dari Provident Biofuels untuk dijual di wilayah tersebut.

Di Asia, cangkang inti sawit dibakar untuk produksi listrik skala besar di Singapura, Korea Selatan dan Jepang. Korea Selatan dan Jepang mengsubsidi penggunaannya untuk pembangkit listrik.


Menurut Daichi Kamite, manajer umum dan kepala perencanaan perusahaan di eRex, sebuah perusahaan pembangkit listrik yang mengoperasikan empat pembangkit listrik biomassa di Jepang, pemerintah Jepang memberikan pembayaran energi terbarukan untuk tenaga listrik yang diproduksi dari cangkang inti sawit, yang dianggap sebagai energi terbarukan.


Bonar Silalahi, kepala bagian barang industri dan konsumen, solusi sektor di UOB, sebuah bank di Singapura yang menyediakan pembiayaan bagi Provident Fuels, berkomentar: “Di [Asia], penggunaan cangkang inti sawit sebagai pengganti bahan bakar fosil