Bea ekspor Indonesia atas minyak kelapa sawit mentah dinaikkan pada bulan Desember menjadi 33 Dolar

Bea ekspor Indonesia atas minyak kelapa sawit mentah dinaikkan pada bulan Desember menjadi 33 Dolar Amerika per metrik ton dan 3 Dolar Amerika per metrik ton


Pemerintah Indonesia telah mengumumkan bea ekspor minyak kelapa sawit mentah akan dinaikkan pada bulan Desember menjadi 33 Dolar Amerika per metrik ton dari 3 Dolar Amerika per metrik ton pada tanggal 30 November, setelah harga referensi ekspor CPO diperhitungkan pada 870,77 Dolar Amerika per metrik ton, naik dari 782,03 Dolar Amerika per metrik ton pada bulan November.


Langkah tersebut telah diprediksi oleh pelaku pasar karena kenaikan harga CPO. Menurut data dari S&P Global Platts, harga rata-rata CPO FOB adalah 833,90 Dolar Amerika per metrik ton pada bulan November, naik 14% dari 730,43 Dolar Amerika per metrik ton di bulan Oktober dan naik 17% dari 710 Dolar Amerika per metrik ton di bulan September.



Pasar masih menunggu berita terkait cukai ekspor, yang saat ini sebesar 55 Dolar Amerika per metrik ton. “Jujur saja saya lelah menunggu berita ini sejak bulan September. Tergantung siapa yang anda tanyakan, bisa berkisar dari angka yang sama hingga setinggi 180 Dolar Amerika per metrik ton,” kata seorang produsen. Beberapa pelaku pasar khawatir bea ekspor yang tinggi dan potensi pungutan eksor yang “keterlaluan” dapat merugikan daya saing Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, di mana bea ekspor CPO dibebaskan hingga akhir tahun.


"Ekspor minyak kelapa sawit mentah Indonesia sebenarnya telah pulih sejak bulan Agustus. Tidak hanya impor minyak kelapa sawit Malaysia dari Indonesia yang telah meningkat drastis, pasar pun tertahan menunggu pengumuman cukai setiap bulan. Menjelang akhir bulan ketika penjual merasa sudah telat untuk pemberlakukan cukai, mereka melakukan penjualan secara buru-buru untuk mengosongkan persediaan sebelum bulan depan. Saya merasa skenario ini akan berlangsung hingga pengumuman cukai dibuat. Sementara itu, susah untuk mengantisipasi pergerakan harga di tengah kebingungan ini,” kata kepala bagia penelitian Sunvin Group India Anilkumar Bagani.


Bagani juga mencatat keputusan pemerintah India untuk mengurangi bea masuk dasar atas impor CPO akan mendukung permintaan CPO, dengan mengorbankan minyak tambahan lainnya, mengestimasikan angka ekspor Indonesia pada bulan Oktober akan menurun sedikit menjadi 2,75 metrik ton, dan 2,85 metrik ton pada bulan November serta 2,90 metrik ton pada bulan Desember.

Copyright 2021 Asia Palm Oil Magazine

FBI Publications (M) Sdn Bhd | 9-3, jalan PJU 5/6, Dataran Sunway, 47810 Petaling Jaya, Selangor